Senin, 07 April 2014

Dharma Shanti Penyepian III Caka 1936 Universitas Udayana


Dharma Shanti Penyepian (DSP) merupakan salah satu program rutin FPMHD-Unud. DSP adalah wadah kreatifitas yang khusus dicanangkan oleh Forum Persaudaraan Hindu Dharma Unud untuk generasi muda hindu yang meliputi adik-adik SMP serta SMA/SMK se-Bali untuk melestarikan keajegan Bali. DSP warsa 1936 tahun ini merupakan DSP yang ketiga kalinya dilaksanakan dan tahun ini diketuai oleh I Kadek Slamet (Mahasiswa Fak. Peternakan Unud angkatan 2012). 
Tema DSP tahun 2014 ini adalah “Meningkatkan Kepedulian Generasi Hindu Terhadap Taksu Bali”. Melalui kegiatan DSP III ini diharapkan nantinya siswa-siswi SMP dan SMA/SMK se-Bali sebagai generasi muda Hindu dapat mewujudkan keharmonisan umat beragama salah satunya dengan cara mengukuhkan suatu kepribadian yang berkarakter, berintelektual terhadap taksu Bali itu sendiri. Dalam kegiatan ini pula, harapan yang diinginkan adalah terwujudnya siswa-siswi generasi Hindu yang terampil dalam mengekspresikan ajaran- ajaran agama Hindu dan kebudayaannya dalam sebuah bidang sehingga generasi muda sekarang tidak jauh meninggalkan kebudayaan atau identitas sendiri sebagai agama Hindu dan masyarakat Bali sehingga dapat tercapai keajegan taksu Bali yang diinginkan.
Serangkaian kegiatan DSP ini meliputi tirta yatra, baksos serta serangkaian lomba untuk adik-adik SMP dan SMA/SMK se-Bali. Tirta yatra yang telah dilakukan terdiri atas dua tahap dimana tahap pertama dengan rute Padmasana Kampus Sudirman, Padmasana Kampus Bukit, Pura Dalem Blembong, Pura Goa Gong dan ditutup dengan Pura Uluwatu. Titrta yatra tahap kedua terdiri atas Pura Batur, Pura Besakih dan Pura Goa Lawah. Baksos dilaksanakan dengan kegiatan pembersihan areal Padmasana Kampus Bukit dan Pura Dalem Blembong sebagai wujud ngayah semeton forum selain hanya sebagai rentetan dalam rangka kegiatan DSP ini. 
Serangkaian lomba untuk adik-adik SMP dan SMA/SMK se-Bali meliputi lomba Essay tingkat SMP se-Bali, Lomba Cerdas Cermat, Lomba Kording serta Lomba Fotografi tingkat SMA/SMK se-Bali. Lomba Essay tingkat SMP se-Bali diikuti oleh 81 Peserta, Lomba Kording tingkat SMA/SMK se-Bali sebanyak 14 Tim, Lomba Cerdas Cermat tingkat SMA/SMK se-Bali diikuti oleh 14 Tim serta Lomba Fotografi yang diikuti oleh 12 Peserta. 
Jumlah peserta yang mengikuti serangkaian perlombaan dalam kegiatan Dharma Santi Penyepian III tahun 2014 ini merupakan yang terbanyak dari kegiatan DSP sebelumnya. Sejumlah piala, uang pembinaan, piagam serta Piala bergilir Rektor Universitas Udayana telah diserahkan pada masing-masing juara lomba sebagai bentuk penghargaan dan ucapan selamat atas presetasi siswa-siswi generasi Hindu dari FPMHD-Unud.

Sabtu, 22 Maret 2014

Tumpek Landep, Bukan Semata-mata Otonan Motor

Tumpek Landep merupakan hari raya yang tidak asing lagi bagi umat Hindu di Bali. Hari raya ini jatuh pada Saniscara Keliwon Wuku Landep. Hari raya ini diperingati setiap 6 bulan sekali atau 210 hari.  Pada hari ini umat Hindu biasanya membuat banten/sesajen yang dihaturkan pada merajan, alat-alat fisik, serta sarana pendukung kegiatan lainnya.
Secara filosofis, Tumpek Landep Berasal dari kata Tumpek dan Landep. Tumpek berasal dari kata tampek yang berarti dekat dan Landep berarti tajam/lancip. Adapun ketajaman yang dimaksud tersebut itu layaknya senjata yang berbentuk lancip/runcing seperti keris, tombak, dan pedang.
Hari Raya Tumpek Landep di Bali sejatinya merupakan rangkaian dari Hari Raya Saraswati yang jatuh pada dua minggu sebelum hari raya ini. Jika pada saat hari raya Saraswati umat Hindu melakukan puji syukur atas turunnya ilmu pengetahuan dimana diimplementasikan dengan mengupacari berbagai sumber-sumber ilmu pengetahuan, seperti buku, lontar, prasasti dan berbagai sumber-sumber sastra dan ilmu pengetahuan lainnya. Sedangkan pada hari raya Tumpek Landep ini lebih mengucapkan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati yang telah menganugrahi kecerdasan dan ketajaman pikiran kepada manusia, yang mana dari pikiran-pikiran  tersebut melahirkan suatu ciptaan yang dapat mempermudah kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan. Sederhananya, ilmu pengetahuan yang turun dan didapatkan dua minggu sebelumnya maka diasah pada hari Tumpek Landep ini.
Dalam perkembangannya, kini perayaan hari raya Tumpek Landep di Bali tidak hanya mengupacarai benda-benda sakral/pusaka seperti keris dan peralatan persenjataan, melainkan juga benda-benda lain yang membantu umat manusia dalam menjalani kehidupan dan mampu memberikan nilai positif terhadapnya. Adapun benda-benda tersebut yang sering kita lihat diupacarai para hari Tumpek Landep ini antara lain : motor, mobil, komputer, mesin-mesin, dan benda-benda fisik lainnya. Sesungguhnya hal ini tidaklah salah, namun pemahaman orang awam di Bali terkadang sedikit keliru dalam memaknai hari Tumpek Landep ini. Bahkah, mirisnya lagi tak jarang kita jumpai umat yang bersembahyang di depan mobilnya di pinggir jalan seakan-akan menTuhankan mobilnya.
Sesungguhnya, senjata yang paling utama dalam kehidupan ini adalah pikiran, karena pikiranlah yang mengendalikan semuanya yang ada. Semua yang baik dan yang buruk dimulai dari pikiran. Maka dari itu dalam perayaan hari Tumpek Landep ini, hal mendasar dan utama yang semestinya kita harapkan adalah agar senantiasa mampu menajamkan pikiran lewat kecerdasan dan mengendalikan pikiran lewat pengalaman-pengalaman yang ada. Jadi, setiap enam bulan sekali umat diingatkan melakukan evaluasi apakah pikiran sudah selalu dijernihkan atau diasah agar tajam. Sebab, dengan pikiran yang tajam, umat menjadi lebih cerdas, lebih teliti melakukan analisa, serta lebih tepat dalam mengambil keputusan.

Penulis : I Kadek Maryana (Mahasiswa Fak. Pertanian Unud 2011)

            Saat ini menjabat sebagai Koordinator FPMHD Unud